Narasiriau.com, BATAM — Gerakan Srikandi Indonesia (GERSI) Kota Batam menunjukkan bahwa organisasi perempuan tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial dan sekadar berkumpul. Komitmen tersebut diwujudkan melalui agenda perdana GERSI bersama Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kota Batam dalam kegiatan penanaman biji timun.
Kegiatan tersebut berlangsung pada 17 September 2026 di kebun milik Ibu Natalia, kawasan belakang Polda Kepri, Nongsa, Batu Besar, Kota Batam.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua HKTI Kota Batam Fahmi Ghifari, Dewan Pembina HKTI Kota Batam Lexi, Ketua GERSI Kota Batam Marlen Susanty, perwakilan Kelompok Tani Berkah Petani Nongsa, Ketua Kelompok Tani Sei Gong Deden, Ketua Mangrove Batam Dian Desima, serta Lurah Barelang Ginting.
Ketua HKTI Kota Batam Fahmi Ghifari mengatakan, penanaman timun merupakan bagian dari upaya mendorong masyarakat agar semakin dekat dengan sektor pertanian dan pemanfaatan lahan produktif.
Menurutnya, timun bukan hanya tanaman yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai manfaat dan potensi ekonomi apabila dikelola secara serius.
“Timun bagi sebagian besar masyarakat merupakan lalapan yang hampir selalu hadir dalam menu makanan tertentu. Timun juga menjadi pelengkap rujak maupun berbagai olahan makanan lainnya,” ujar Fahmi.
Namun, bagi GERSI, kegiatan tersebut memiliki makna yang lebih luas. Penanaman biji timun menjadi simbol bahwa perempuan juga mampu mengambil bagian dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Ketua GERSI Kota Batam, Marlen Susanty, menegaskan bahwa keberadaan organisasi perempuan harus dibuktikan melalui kerja nyata.
“GERSI ingin melahirkan perempuan yang berdaya, mandiri, dan bermartabat untuk bangsa Indonesia. Perempuan jangan hanya sekadar berkumpul, tetapi harus hadir dengan kontribusi nyata,” tegas Marlen.
Ia menambahkan, setiap anggota GERSI diharapkan mampu menggali potensi yang dimiliki dan mengubahnya menjadi kekuatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Organisasi bukan tempat untuk sekadar berkumpul. Organisasi adalah ruang untuk bergerak, belajar, berkarya dan memberikan manfaat,” katanya.
Marlen menyebut, GERSI tidak hanya bergerak dalam bidang pemberdayaan ekonomi, tetapi juga memiliki agenda sosial dan kemanusiaan yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Melalui pengembangan UMKM dan koperasi, pendidikan serta pelatihan, kegiatan sosial, penguatan kebudayaan dan kesenian, hingga mempererat hubungan antarsesama, GERSI ingin membangun gerakan perempuan yang memiliki manfaat nyata.
Bagi GERSI, penanaman biji timun mungkin terlihat sederhana. Namun dari kegiatan sederhana tersebut, terdapat pesan besar tentang kemandirian.
Karena itu, agenda perdana bersama HKTI Kota Batam tersebut diharapkan menjadi awal dari berbagai kegiatan pemberdayaan yang lebih luas, terutama dalam membuka ruang bagi perempuan untuk ikut berkontribusi dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan kemanusiaan.
“Kalau kita ingin masyarakat berdaya, maka potensi masyarakat harus diberi ruang. Dan kalau kita ingin perempuan mandiri, maka perempuan harus diberi kesempatan untuk bergerak,” pungkas Marlen.
Dengan semangat tersebut, GERSI Kota Batam membawa visi untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur melalui bidang ekonomi, sosial dan budaya, sekaligus mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan.
Adapun misi GERSI meliputi pengembangan ekonomi melalui UMKM dan koperasi, kegiatan sosial dan kemasyarakatan, penguatan kebudayaan dan kesenian, mempererat hubungan antarsesama serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan dan pelatihan. (𝐇𝐚𝐝𝐢𝐠𝐮𝐬)







