• Jelajahi

    Copyright © Narasi Riau
    Best Viral Premium Blogger Templates

    𝑲𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝑵𝒂𝒎𝒂 𝑺𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝑼𝒍𝒂𝒎𝒂 𝑴𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝑹𝒖𝒎𝒂𝒉 𝒃𝒂𝒈𝒊 𝑰𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏 dan pedoman. 𝑯𝒂𝒖𝒍 𝒌𝒆-𝟐𝟓 Abah 𝑮𝒖𝒓𝒖 𝑰𝒅𝒂𝒎 𝒅𝒂𝒏 𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝑻𝒂𝒌 𝑷𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝑼𝒔𝒂𝒊.

    Redaksi
    , Agustus 06, 2026 WIB Last Updated 2026-08-06T02:10:47Z



    Narasiriau.com, Tembilahan,
    6 Agustus 2026 — Suasana Haul ke-25 Guru Idam menjadi bukti bahwa kecintaan masyarakat Indragiri Hilir kepada ulama bukanlah kenangan yang memudar, melainkan cahaya yang terus menyala di dalam ingatan. Malam itu, jalan-jalan menuju Tanjung Harapan tidak sekadar dipenuhi langkah manusia, tetapi juga dipenuhi rindu yang menggenang kepada seorang guru yang telah lama berpulang. 


    Haul 𝒌𝒆-𝟐𝟓 𝑻𝑮𝑯. 𝑮𝒖𝒔𝒕𝒊 𝑫𝒊𝒎𝒚𝒂𝒕𝒊 𝑹𝒂𝒉𝒎𝒂𝒏 𝒃𝒊𝒏 𝑻𝑮𝑯. 𝑴. 𝑨𝒔'𝒂𝒅 𝑺𝒉𝒊𝒅𝒅𝒊𝒒 𝒃𝒊𝒏 𝑴𝒖𝒇𝒕𝒊 𝑺𝒚𝒆𝒌𝒉 𝑯. 𝑨𝒃𝒅𝒖𝒓𝒓𝒂𝒉𝒎𝒂𝒏 𝑺𝒉𝒊𝒅𝒅𝒊𝒒 𝑨𝒍-𝑩𝒂𝒏𝒋𝒂𝒓𝒊, yang akrab dipanggil Abah Idam, digelar pada Rabu, 5 Agustus 2026, atau Malam Kamis ba’da Isya, pukul 20.00 WIB hingga selesai, di Jalan Tanjung Harapan Lorong Tanjung Pinang No. 30, Kelurahan Sungai Beringin, Kecamatan Tembilahan.


    Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak tubuhnya dititipkan kepada bumi. Namun waktu ternyata tidak sanggup menghapus jejak seorang ulama yang hidupnya dipersembahkan untuk ilmu, dakwah, dan kasih sayang kepada umat. Ada nama yang tenggelam ketika jabatan berakhir, ada pula nama yang justru semakin tumbuh ketika jasad telah tiada. Abah Idam adalah nama yang memilih hidup di hati masyarakat.


    Haul bukan sekadar peringatan tahunan, ia adalah perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, antara doa yang dipanjatkan dan teladan yang diwariskan. Sebab, manusia diingatkan bahwa yang abadi bukanlah singgasana, melainkan pengabdian, dan bukan pula kemegahan, melainkan keberkahan yang terus mengalir.


    Penyelenggara, 𝑮. 𝑰𝒏𝒅𝒓𝒂 𝑫𝒂𝒎𝒊𝒂𝒕𝒉, mengajak seluruh masyarakat menjadikan haul sebagai ruang untuk menundukkan hati dan menegakkan kembali makna hidup.


    "𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒉𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒏𝒊 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒅𝒊𝒃𝒆𝒓𝒊 𝒖𝒎𝒖𝒓, 𝒎𝒂𝒌𝒂 𝒋𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒊𝒃𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏 𝒏𝒂𝒎𝒂, 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒃𝒂𝒏𝒈𝒖𝒏𝒍𝒂𝒉 𝒂𝒎𝒂𝒍 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒕 𝒏𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒕𝒆𝒕𝒂𝒑 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒔𝒆𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒕𝒊𝒂𝒅𝒂," 𝒖𝒋𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂. 


    Di antara lantunan doa dan silaturahmi yang menghangatkan malam, Haul Abah Idam menjadi cermin yang memantulkan satu kenyataan sederhana, "𝒌𝒆𝒎𝒖𝒍𝒊𝒂𝒂𝒏 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒍𝒂𝒉𝒊𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒖𝒓𝒔𝒊 𝒌𝒆𝒌𝒖𝒂𝒔𝒂𝒂𝒏." Ada orang yang tak pernah menjadi pejabat, tetapi namanya terus disebut dalam doa. Ada yang tidak memiliki istana, tetapi makamnya tak pernah kehilangan peziarah.


    G. Indra Damiath menambahkan bahwa keteladanan ulama adalah akar yang meneguhkan pohon masyarakat agar tetap berdiri di tengah angin zaman.


    "𝑯𝒂𝒖𝒍 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏. 𝑴𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖𝒊 𝒅𝒐𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒍𝒂𝒕𝒖𝒓𝒂𝒉𝒎𝒊, 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒂𝒘𝒂𝒕 𝒘𝒂𝒓𝒊𝒔𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒖𝒍𝒂𝒎𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒂𝒃𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑𝒏𝒚𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒊𝒅𝒊𝒌𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒌𝒘𝒂𝒉, 𝒅𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒔𝒂𝒕𝒖𝒂𝒏 𝒖𝒎𝒂𝒕. 𝑺𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝒌𝒆𝒈𝒊𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒊𝒏𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒊𝒌𝒉𝒕𝒊𝒂𝒓 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒌𝒖𝒂𝒕 𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊-𝒏𝒊𝒍𝒂𝒊 𝒌𝒆𝒂𝒈𝒂𝒎𝒂𝒂𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒃𝒂𝒏𝒈𝒔𝒂𝒂𝒏," 𝒑𝒖𝒏𝒈𝒌𝒂𝒔𝒏𝒚𝒂. 


    Malam itu, Tembilahan seakan sedang membaca kembali kitab yang ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan keteladanan. Dan di antara wajah-wajah yang datang dengan penuh hormat, tersimpan satu kesaksian yang tak perlu diumumkan, "𝑩𝒂𝒉𝒘𝒂 𝒔𝒆𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒈𝒖𝒓𝒖 𝒔𝒆𝒋𝒂𝒕𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓-𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊. 𝑰𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒑𝒊𝒏𝒅𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕, 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆𝒍𝒂𝒔 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒋𝒖 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒔𝒖𝒂𝒓𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒉𝒖𝒍𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒓, 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒋𝒖 𝒅𝒐𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒊𝒏𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔 𝒅𝒊𝒑𝒂𝒏𝒋𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏."


    Haul ke-25 KH. Gusti Dimyati Rahman bukan hanya mengenang seorang ulama, ia adalah pengingat bahwa manusia pada akhirnya tidak dikenang karena seberapa lama ia berkuasa, melainkan karena seberapa dalam ia memberi manfaat. Dan selama masyarakat masih berkumpul untuk menyebut namanya dengan penuh cinta, Abah Idam akan tetap hidup dalam denyut batin Indragiri Hilir. (Hadigus/Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini